Admin
09-01-2026
Infeksi
menular seksual (IMS) merupakan infeksi yang ditularkan melalui hubungan
seksual, yang popular disebut penyakit kelamin. Semua hubungan seks lewat
vagina, dubur atau mulut dapat menjadi wahana penularan penyakit kelamin.
Penyebab infeksi tersebut diantaranya adalah bakteri (misalnya gonore,
sifilis), jamur, virus (misalnya herpes, HIV), atau parasit (misalnya kutu),
penyakit ini dapat menyerang pria maupun wanita.
Tidak
semua IMS ditularkan hanya melalui hubungan seksual, tetapi ada IMS yang dapat
menular melalui kontak langsung dengan alat- alat yang tercemar, seperti:
handuk, termometer, jarum suntik, atau melalui cairan tubuh (darah, cairan
vagina, sperma, saliva). Cara penularan IMS yang lain adalah dari ibu hamil
kepada janin yang dikandungnya atau pada saat inpartu (proses kelahiran).
Faktor resiko Infeksi Menular seksual
Penularan
IMS yang menyangkut kesehatan dan perilaku seksual yaitu usia, jenis kelamin,
pengetahuan dan status perkawinan. Golongan usia dewasa muda memiliki tingkat
risiko tertular IMS yang tinggi karena dapat terlibat hubungan seksual dengan
beberapa orang dan seringkali tidak menggunakan kondom
Cara
Penularan Infeksi Menular Seksual
Infeksi
menular seksual dapat tertular melalui berbagai perantara, antara lain:
a.
Darah
b.
Ibu hamil Kepada Bayinya
c.
Tato dan Tindik
d.
Sentuhan
e. Cara Membersihkan Organ Genitalia.
Tanda dan Gejala Infeksi
Menular Seksual
Gejala-gejala
(Symtomatic) penyakit menular seksual yang mungkin muncul antara lain sebagai
berikut:
a)
Keluar cairan (keputihan) yng tidak normal dari vagina atau penis. Pada wanita
terjadi peningkatan keputihan. Warnanya
bisa menjadi lebih putih, kekuningan, kehijauan, atau merah muda. Keputihan
dapat berbau tidak sedap dan berlendir.
b)
Pada pria, rasa panas seperti terbakar aatau sakit selama atau setelah kencing.
Biasanya disebabkan oleh penyakit menular seksual. Pada wanita,gejala demikian
dapat disebabkan oleh penyakit menular seksual, tetapi dapat juga disebabkan
oleh infeksi kandung kencing yang ditularkan melalaui hubungan seksual.
c)
Luka terbuka atau luka basah disekitar alat kelamin atau mulut. Luka tersebut
dapat terasa sakit atau tidak.
d)
Tonjolan kecil-kecil (Popules) di sekitar alat kelamin.
e)
Kemerahan di sekitar alat kelamin.
f)
Pada pria, rasa sakit atau kemerahan pada kantung zakar.
g)
Rasa sakit di perut bagian bawah yang hilang timbul yang tidak berhubungan
dengan menstruasi.
h)
Ada bercak darah setelah berhubungan seksual.
Pencegahan Infeksi Menular
Seksual
1.Meningkatkan
ketahanan keluarga melalui pesan kunci (dikenal dengan singkatan “ABCDE”).
a. Abstinensia : Tidak melakukan hubungan
seksual diluar nikah.
b. Be faithful : Setia pada pasangan yang
sah.
c. Condom : Penggunaan kondom sebagai salah satu metode
pencegahan IMS adalah alternatif terakhir
yang harus dipilih jika metode A dan B tidak dapat dilakukan. (Aprilianingrum,
2006).
d. Drugs :Hindari pemakaian narkoba.
Khususnya yang menggunakan suntikan.
e. Equipment : Mintalah peralatan
kesehatan yang streil.
2.
Pencegahan melalui darah
a. Skrining darah donor dan produk darah.
b. Menggunakan alat suntikdan alat lain
yang steril.
c. Penerapan kewaspadaan universal
(Universal infection precaution).
d. Berhati-hati pada saat menangani segala
hal yang tercemar oleh darah segar.
3.
Pencegahan Menular dari ibu ke anak
a. Pemeriksaan dan konseling ibu hamil.
b. Pemberian obat antiretroviral bagi ibu hamil yang
mengidap infeksi HIV.
4.
Menjaga kebersihan alat reproduksi karena ada jenis IMS yang dapat diderita
tanpa melalui hubungan seksual
misalnya keputihan yang diakibatkan oleh jamur.
5.
Memeriksakan diri segera bila ada gejala-gejala infeksi menular seksual yang
dicurigai.
6. menghindari /hubungan seksual bila ada gejala infeksi menular seksual, seperti borok pada alat kelamin atau keluarnya pus (cairan nanah) dari tubuh.
Kapan harus ke Dokter
Segera ke dokter jika mengalami gejala Infeksi Menular
Seksual (IMS) apa pun, terutama jika memiliki riwayat
aktivitas seksual tanpa kondom atau memiliki pasangan yang terinfeksi. Banyak IMS mungkin tidak menimbulkan
gejala pada tahap awal, namun tetap dapat menyebabkan komplikasi serius jika
tidak diobati.